Rabu, 04 Januari 2012 - 09:23:06 WIT
Diposting oleh : Semmy | Kategori: Opini | Dibaca: 101 kali

Sudah empat hari ini hujan membasahi tanah Ambon. Tanah dan tanaman seolah mendapat hadia tahun baru sehingga dia terus menginginkannya. Kemarin kira jam 1 siang turun hujan lebat sekali yang didahului dengan angin kencang. Pemandangan seperti biasanya bahwa saat hujan mulai turun rintik-rintik orang-orang berlarian mencari perteduhan dan pengendara motor sedikit melajukan motornya, tapi yang pasti bahwa rumah kopi (Joas) tempatku duduk kemarin menjadi sangat ramai..
Sebenarny, hal yang mencuri perhatianku adalah ketika setelah hujan turun. Bahwa di beberaa ruas jalan terjadi pemandangan yang menjengkelkan yaitu; Passo, Galala, Batu Merah, Mardika dan Kapaha. Pasalnya bahwa air hujan menyeret tumpukan sampah hingga memenuhi badan jalan. Pemandangan ini sudah menjadi hal biasa karena masyarakat setempat seperti tidak peduli. Ketidakpedulian ini sebenarnya timbul ketika Pemerintah Kota Ambon membentuk satu dinas baru yakni Dinas Kebersiahn dan Pertamanan (tidak tahu kapan), sehingga masyarakat selalu berdalah "itu tugasnya Dinas Kebersihan untuk membersihkan, mereka kan sudah digaji dari uang masyarakat".
Dahulu, kebersihan lingkungan menjadi bagian dari budaya orang maluku istilah ini dikenal dengan nama Kalesang. Memang istilah Kalesang bukan soal kebersihan saja tapi secaramenyeluruh tentang menjaga, memelihara dan melindungi. Waktu saya SD dulu, kita di 'doktrin' tentang Kalesang Kintal, dimana harus memperhatikan kebersihan halaman rumah dan halaman sekolah. Sebelum kita berangkat sekolah pagi harus terlebih dulu menyapu/membersihkan halaman rumah, demikian juga saat sore menjelah magrip. Seseorang akan merasa 'malu' ketika rumahnya/kintalnya terlihat berantakan.
Berbeda dengan kondisi yang sekarang bahwa ketika tanggung jawab
kebersihan berpindah ke pemerintah maka masyarakat terlhita 'apatis'
terhadap sampah. Masyarakat hanya peduli sampah di rumahnya saja, soal
kintal sudah jadi tanggungan pemerintah.
2 tahun lalu saya sempat mengikuti FGD dalam rangka pembuatan sebuah
Perwali tentang sampah. Banyak peserta selalu menyoroti tupoksi dinas
ini yang selalu beralasan soal resource (alat dan manusia). Peserta juga
selalu membandingkan soal ketegasan Walikota dengan Walikota
pendahulunya; Bpk. Deky Wattimena. Ketegasan Bpk. Deky Wattimena inilah
yang memberikan hasil bahwa Ambon pernah meraih penghargaan Kalpataru.
Saya berharap Pemerintah bisa 'menghidupkan' kembali Kearifal Lokal masyarakat Maluku tentang Kalesang Kintal. Dahulu itu menjadi sebuah budaya namun tergerus oleh kebijakan birokrasi. Menghidupkan kembali bukan berarti mengesampingkan tupoksi Dinas Kebersihan & Pertamanan namun bagaimana mesyarakat tidak lagi apatis terhadap lingkungan sekitarnya.
Semoga Ambon menjadi kota yang bersih seperti program/janji Walikota yang sekarang.
sumber gambar : www.gresnews.me

- Batu Layar
- Tahun Barunya orang Ambon
- Selamat Tahun Baru 2012
- Seedikit Cerita ttg Tabaos ARUMBAI
- Dankje voor de Geest
- Berbicara
- Rohomoni Yang Ramah
- Rumah Kopi Joas
- Deklarasi Ambon
| Ditulis Oleh : Semmy | dulu blogger abal-abal | suka ngopi | motret dikit-dikit | konsultan IT dadakan | suka ngoprek web | suka nonton film | pingin punya galaxy tab | masih skolah sampe sekarang... |
Komentar :
indobrad
04 Januari 2012 - 09:54:08 WIT
Heh, gambar tumpukan sampah itu di Ambon?! Menyedihkan sekali :(
Gimana kalau blogger mulai berkampanye tentang Kalesang Kintal itu?
Semmy
04 Januari 2012 - 10:01:52 WIT
Itu di pasar mardika Om, fotonya sih tahun 2010 lalu tapi ga jauh beda diawal tahun 2012 ini. Smoga Arumbai bisa....
Meyby
22 Januari 2012 - 11:11:59 WIT
ibu2 sampek nutup hidung.., kasihan..menyedihkan..,
keren blognya om.., sukses slalu..,
Semmy
03 Februari 2012 - 09:05:17 WIT
Thax Meyby... :)
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Jangan Lupa Isi Komentar :











Belajar & Berbagi | ada deng arumbai