Rohomoni Yang Ramah
Minggu, 25 Oktober 2009 - 07:44:05 WIT
Diposting oleh : Semmy | Kategori: Budaya | Dibaca: 58 kali
Ini adalah pengalaman pertamaku untuk jalan-jalan ke Negeri Rohomoni. Bersama Lede, saya berangkat dari kota Ambon menggunakan motor kira-kira 20 menit menuju Negeri Tulehu. Sempat kesasar pelabuhan, ternyata pelabuhan rute Rohomoni terletak di dalam Negeri Tulehu – dekat Masjid (bukan di pelabuhan Urnala – Ujung Negeri Tulehu). Motor+kuncinya kami titipkan di Bapak Im untuk kemudian menuju Rohomoni menggunakan Speedboat. Jasa speedbot ini hanya Rp.15.000- per orang. Perjalanan selama 15 menit menggunakan speedboat ini terasa menyenangkan karena pemandangan hamparan bukit-bukit yang jauh sana terlihat indah. Ketika speedboat memasuki kampung Negeri Rohomoni, terlihat suasana Desa yang asri dan sepi. Kami disambut dengan senyum-senyum yang bersahaja oleh masyarakat Rohomoni, berselang 10 menit kemudian kami dijemput oleh Abang Is yang sudah lebih dulu ada di Rohomoni.
Ada satu hal yang membuat saya kagum. Sebelum berangkat ke Rohomoni, saya dan Lede telah di-SMS oleh Abang Is untuk membawa kopiah/topi sebagai penutup kepala. Bingung juga baca sms ini sehingga saya dan lede tidak sempat membawa topi dimaksud. Saat sampai di Rohomoni, saya memperhatikan dengan saksama bahwa semua lelaki dewasa memakai penutu kepala berupa kopiah atau kain putih. Ketika sharing dengan pemilik rumah tempat kami tingga ternyata penggunaan kopiah/topi merupakan hal wajib bagi laki-laki yang telah khitan. Penggunaan kopiah/topi ini bukan saja pada saat ada hajatan di Negeri Rohomoni namun dalam kehidupan dan aktivitas sehari-hari kopiah/topi ini selalu digunakan. Yang saya perhatikan selama sehari di Rohomoni bahwa kopiah/topi ini dilepas saat hendak mandi aja. Ini adalah kebiasaan turun-temurun semenjak masuknya Islam pertama kali di Rohomoni dan masih dipelihara hingga saat ini.
Hal yang menarik di Rohomoni adalah saat mandi di sungai. Ini pengalaman pertama bagi Lede rupanya Untung aja waktu mandi jam 8 malam tidak ada orang lagi di sungai sehingga bisa bebas berekspresi
Kedatangan kami ke Rohomoni ini sengaja untuk menghadiri pelantikan Raja Negeri Rohomoni yaitu Drs. Jusuf Sangadji, ayahanda dari Bpk. Ir. M.Z. Sangadji, MSi (kepala Bappeda Provinsi Maluku). Acara ini sangat ramai karena dihadiri oleh Bupati Maluku tengah dan Gubernur Maluku., juga anak-anak perantauan Rohomoni yang ada di Jakarta. Setelah acara pelantikan dilanjutkan dengan makan patita kemudian suguhan seni khas Negeri Rohomoni dari sanggar Alaka. Malamnya disambung dengan pesta rakyat, sayangnya saya dan Lede tidak sempat menikmati pesta rakyat karena pulang lebih awal…

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Komentar :
Jangan Lupa Isi Komentar :
Minggu, 25 Oktober 2009 - 07:44:05 WIT
Diposting oleh : Semmy | Kategori: Budaya | Dibaca: 58 kali

Ini adalah pengalaman pertamaku untuk jalan-jalan ke Negeri Rohomoni. Bersama Lede, saya berangkat dari kota Ambon menggunakan motor kira-kira 20 menit menuju Negeri Tulehu. Sempat kesasar pelabuhan, ternyata pelabuhan rute Rohomoni terletak di dalam Negeri Tulehu – dekat Masjid (bukan di pelabuhan Urnala – Ujung Negeri Tulehu). Motor+kuncinya kami titipkan di Bapak Im untuk kemudian menuju Rohomoni menggunakan Speedboat. Jasa speedbot ini hanya Rp.15.000- per orang. Perjalanan selama 15 menit menggunakan speedboat ini terasa menyenangkan karena pemandangan hamparan bukit-bukit yang jauh sana terlihat indah. Ketika speedboat memasuki kampung Negeri Rohomoni, terlihat suasana Desa yang asri dan sepi. Kami disambut dengan senyum-senyum yang bersahaja oleh masyarakat Rohomoni, berselang 10 menit kemudian kami dijemput oleh Abang Is yang sudah lebih dulu ada di Rohomoni.
Ada satu hal yang membuat saya kagum. Sebelum berangkat ke Rohomoni, saya dan Lede telah di-SMS oleh Abang Is untuk membawa kopiah/topi sebagai penutup kepala. Bingung juga baca sms ini sehingga saya dan lede tidak sempat membawa topi dimaksud. Saat sampai di Rohomoni, saya memperhatikan dengan saksama bahwa semua lelaki dewasa memakai penutu kepala berupa kopiah atau kain putih. Ketika sharing dengan pemilik rumah tempat kami tingga ternyata penggunaan kopiah/topi merupakan hal wajib bagi laki-laki yang telah khitan. Penggunaan kopiah/topi ini bukan saja pada saat ada hajatan di Negeri Rohomoni namun dalam kehidupan dan aktivitas sehari-hari kopiah/topi ini selalu digunakan. Yang saya perhatikan selama sehari di Rohomoni bahwa kopiah/topi ini dilepas saat hendak mandi aja. Ini adalah kebiasaan turun-temurun semenjak masuknya Islam pertama kali di Rohomoni dan masih dipelihara hingga saat ini.
Hal yang menarik di Rohomoni adalah saat mandi di sungai. Ini pengalaman pertama bagi Lede rupanya Untung aja waktu mandi jam 8 malam tidak ada orang lagi di sungai sehingga bisa bebas berekspresi
Kedatangan kami ke Rohomoni ini sengaja untuk menghadiri pelantikan Raja Negeri Rohomoni yaitu Drs. Jusuf Sangadji, ayahanda dari Bpk. Ir. M.Z. Sangadji, MSi (kepala Bappeda Provinsi Maluku). Acara ini sangat ramai karena dihadiri oleh Bupati Maluku tengah dan Gubernur Maluku., juga anak-anak perantauan Rohomoni yang ada di Jakarta. Setelah acara pelantikan dilanjutkan dengan makan patita kemudian suguhan seni khas Negeri Rohomoni dari sanggar Alaka. Malamnya disambung dengan pesta rakyat, sayangnya saya dan Lede tidak sempat menikmati pesta rakyat karena pulang lebih awal…

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
| Ditulis Oleh : Semmy | dulu blogger abal-abal | suka ngopi | motret dikit-dikit | konsultan IT dadakan | suka ngoprek web | suka nonton film | pingin punya galaxy tab | masih skolah sampe sekarang... |
Komentar :
Jangan Lupa Isi Komentar :











Belajar & Berbagi | ada deng arumbai